Rahmat Hariyadi

Create our history through work

  • Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada-Nya

    Pengabdian itu tentu bukan sekedar menyembah-Nya

    Sebagaimana yang diwajibkan dan disunnahkan-Nya

    Karena yang wajib dan yang sunnah itu adalah cara-Nya

    Untuk “memaksakan” kebaikan bagi hamba yang dikasihi-Nya

    Bukan untuk dan bagi hadirat-Nya

     Ketika manusia bekerja sesuai profesinya

    Apakah ia boleh merasa sudah mengabdi kepada-Nya?

    Dan mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada-Nya?

    Padahal ia telah mendapatkan gaji dan bayarannya

    Kadang bahkan melebihi keringat yang dikeluarkannya

    Pantaskah ia masih berharap pahala dari-Nya?

     Pengabdian  itu tentu “beyond”  itu semuanya

    Pengabdian itu berwujud pada pelayanan kepada hamba-Nya

    Atas dasar kesyukuran terhadap segala karunia-Nya

    Dan atas dasar keihlasan semata dipersembahkan untuk-Nya

    Dalam bentuk pengorbanan atas sebagian apa yang dimilikinya

    Untuk-Nya, Bersama-Nya dan pada jalan-Nya

    Lillaah… Billaah.. dan Fillaah

    Lantas… Yang manakah itu?

    Yang benar-benar persembahanmu untuk-Nya?

    No Comments
  • Memang kematian manusia adalah taqdir Allah

    Siapa, kapan, di mana, dengan cara bagaimana

    Adalah misteri bagi manusia

    Kenyataan ini bisa kita terima

     

    Tapi…. kematian di jalan raya…

    Semakin hari jumlah kendaraan terus meningkat

    Tidak ada pembatasan sama sekali

    Setiap orang bisa membeli, menaiki dengan caranya sendiri

    Saat ini ada sekitar 70 juta sepeda motor

    Dan terus bertambah, tanpa kendali

    Dan…setiap hari ratusan  warga (pribumi) mati di jalan

    Mayoritas mereka adalah orang muda

    Kecintaan, harapan, dan tumpuan keluarganya

    Yang dibesarkan dan dididik dengan segala pengorbanan

    Untuk berbakti pada negeri

    Ooohhh…. betapa ruginya negeri ini

    Menurut data Korlantas Polri pada tahun 2013

    setiap hari 80 hingga 90 orang meninggal dunia

    akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia.

    https://www.mobil123.com/berita/

     APAKAH INI TAQDIR ….

    YANG TIDAK BISA DIERBAIKI…

    No Comments
    1. IDENTITAS

    Mata Kuliah          : Manajemen Pendidikan

    Jurusan                 : Pendidikan Agama Islam (PAI)

    Fakultas                : Tarbiyah dan Ilmu Keguaruan

    Semester/Kelas   :  II / Kelas G & H

    Bobot/Kode         : 2 SKS/TAR

    Dosen Pengampu : Dr. Rahmat hariyadi, M.Pd

    No. HP/Alamat    : rahmathariyadi@ymail.com,   Facebook: Rahmat Hariyadi

    rahmathariyadi.staff. iainsalatiga.ac.id

     

    1. STANDAR KOMPETENSI

    Mahasiswa mempunyai pemahaman yang komprehensif tentang konsep dasar dan teori-teori manajemen pendidikan, serta memiliki gambaran penerapannya dalam pengelolaan lembaga pendidikan.

     

    1. TOPIK PERKULIAHAN
    perte-muan TOPIK PERKULIAHAN
       
    1 Kontrak Belajar dan Tinjauan Umum Materi Kuliah
    2 Konsep Dasar Manajemen
    3 Pengertian, Tujuan dan Ruang  Lingkup Manajemen Pendidikan
    4 Tugas dan Fungsi Kepala Sekolah/Madrasah
    5 Visi, Misi dan Tujuan Lembaga Pendidikan
    6 Manajemen Kurikulum
    7 Manajemen Pendidik  dan Tenaga  Kependidikan
    Ujian Tengah Semester
    8 Manajemen Ketatausahaan
    9 Manajemen Kesiswaan
    10 Manajemen Sarana dan Prasarana
    11 Manajemen Hubungan Masyarakat (Public Relation)
    12 Pengawasan dan Supervisi Pendidikan
    13 Manajemen Berbasis Sekolah
    14 Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
    Ujian Akhir Semester

     

    1. KETENTUAN BAGI MAHASISWA DALAM MENGIKUTI PERKULIAHAN
    2. Mahasiswa harus hadir tepat waktu
    3. Toleransi keterlambatan bagi mahasiswa 15 menit
    4. Apabila di atas 15 menit, dan tidak ada keterangan yang dapat dimaklumi, boleh mengikuti kuliah tetapi tidak terhitung hadir.
    5. Mahasiswa yang kehadirannya dibawah 75 % tidak diperbolehkan mengikuti ujian
    6. Mahasiswa berpakaian rapi, sopan, bersepatu, tidak memakai celana levis/jean, mengenakan seragam sesuai ketentuan.
    7. Mahasiswa sangat dianjurkan menyiapkan diri dengan mempelajari materi yang akan dibahas, sehingga dapat berpartisipasi aktif dalam perkuliahan.

     

    1. PENILAIAN

    Penilaian mata kuliah ini  meliputi;

    1. Kehadiran dan Partisipasi :          20 %      (sangat diperhatikan)
    2. Tugas                                      :          20 %
    3. Ujian Tengah Semester      :          30 %
    4. Ujian Akhir Semester        :           30 %

    ________________  +

    Jumlah          :          100%

     SUMBER ACUAN

    Arikunto, Suharsimi, & Lia Yuliana, 2008, Manajemen Pendidikan, Yogyakarta: Aditya Media & FIP UNY.

    Abdul Hadis, Manajemen Mutu Pendidikan. Penerbit Alfabeta

    Didin Kurniadin & Imam Machali. Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan

    1. Mulyasa. 2009. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung:  Rosda.

    Fattah, Nanang, 2008, Landasan Manajemen Pendidikan , Bandung: PT RemajaRosdakarya.

    Mulyono, 2009, Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan, Yogyakarta:  Ar-Ruzz Media.

    Suryo Subroto . Manajemen Pendidikan Di Sekolah. Renika Cipta

    1. Hani Handoko.1995. Manajemen. BPFE, Yogyakarta

     

     

     

    No Comments
  • Ramadhan identik dengan pencucian dosa. Dalam konteks ini, perlu diketahui dosa yang mula-mula dilakukan oleh mahluk di hadapan Sang Khaliq. Ada tiga macam Dosa yang pertama-tama dilakukan, dan menjadi sumber atau pangkal dosa-dosa selanjutnya, yaitu (1) Sombong/Takabbur, (2) Serakah/ merasa kurang puas dengan apa yang ada, dan (3) iri/cemburu.

    Sombong
    Pertama kali dilakukan oleh Iblis, ketika Allah menciptakan nabi Adam, dan akan menugasinya sebagai khalifah di muka bumi, kemudian menyuruh para malaikat bersujud kepadanya, maka Iblis tidak mau, karena merasa lebih baik dari adam. Hal ini diceritakan dalam surat Al-Baqarah, ayat 34 -35:
    وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (٣٤)
    34. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah[13] kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombong-kan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.
    Kemudian pada ayat lain dinyatakan:

    قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ…

    Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api, sedang Engkau menciptakannya dari tanah.” (Qs. Al-A’raf [7]: 12)

    Serakah/Tidak puas dengan apa yang ada, pelakunya Adam dan Hawa
    وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ (٣٥) فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ –
    35. Dan Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai) makanan yang ada di sana sesukamu. (Teta-pi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim. 36. Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikelu-arkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga)-. Kami berfir-man, “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain- dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan-”

    Iri/Cemburu, Pelakunya adalah Qobil yang membunuh Habil, Al-Maidah ayat 27,
    وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَىْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ اْلأَخَرِ قَالَ لأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
    “Ceirtakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satunya dan tidak diterima dari yang lainnya. Maka berkata yang tidak diterima kurbannya, ‘Sungguh aku akan membunuhmu.’ Dan berkata yang diterima kurbannya, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertakwa.’

    Bila kita telusuri, banyak sekali dosa individual maupun kolektif (suatu kaum), yang berasal dari tiga dosa tersebut. Dosa ini juga mencakup dimensi hablun min Allah maupun hablun min an-naas.
    Berikut antara lain dosa-dosa yang berpangkal dari tiga dosa tersebut. Perkelahian (individu), konflik politik (antar partai), dan peperangan antarnegara. Ketiga perbuatan ini bisa bersumber pada kesombongan, keserakahan maupun rasa iri. Selanjutnya, perbuatan selingkuh, pencurian/perampokan, atau korupsi, bisa berangkat dari keserakahan atau tidak puas dengan apa yang dimiliki.
    Dalam rangka mengendalikan tiga potensi atau sumber dosa di atas, maka para ahli tasawuf memberikan resep yaitu (تقوي), yang terdiri atas empat huruf, yaitu:
    ت yang merupakan kependekan dari تضرع artinya merendahkan diri dan merasa diri lemah tidak berdaya di hadapan Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
    ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
    Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut (Q.S. Al-A’raf: 55)
    ق yang berarti قنعه, artinya mencukupkan diri dengan apa yang diberikan Allah.
    و yang artinya   وراع   yaitu memiliki rasa malu yang tinggi di hadapan Allah maupun di hadapan manusia.
    ي yaitu يقين artinya percaya dengan sepenuh kesadaran, bahwa Allah selalu menyertainya, melihat perilakunya, bahkan mendengar bisikan dan mengetahui gerak hatinya.
    Dengan keempat hal di atas, maka insya Allah akan terhindar dari kesombongan, serakah dan selalu tidak puas, serta iri hati kepada orang lain.
    Wallaahu a’lam.

    No Comments
  • Dalam masyarakat Jawa, sering didengar ungkapan gusti Allah ora sare (Tuhan Allah tidak tidur). Ungkapan ini dikemukakan oleh seseorang biasanya terkait dengan konteks tertentu. Paling tidak ada 4 (empat) konteks situasi, di mana ungkapan ini dapat disampaikan dan membawa pengaruh pada si penerima ungkapan tersebut. Apabila ditinjau dari ajaran Islam, maka keempat konteks ungkapan Gusti Allah ora sare, dapat dijelaskan sebagai berikut.

    Pertama, ungkapan ini digunakan untuk mengontrol perilaku, agar seseorang sadar bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah. Dengan menyadari ungkapan ini, maka seseorang akan senantiasa menjaga diri agar segala uncapan dan tindakan, bahkan gerak hatinya diupayakan mendapat ridlo Allah, bukan sebaliknya, akan mendapat murka-Nya (bertaqwa). Salah satu ayat yang bisa menjadi acuan adalah sebagai berikut:
    وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
    Artinya: “dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat, apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hadiid : 4)

    Kedua, ungkapan ini diterapkan untuk menguatkan keyakinan kita saat berdoa meminta jalan keluar dari ketakutan, masalah atau musibah (menjadikan kita bertawakkal). Dalam surat Al-Baqarah ayat ke-255, dinyatakan:
    اَللهُ لآَإِلهَ إِلاَّهُوَالْحَىُّ الْقَيُّوْمُ ج لاَتَأْخُذُه سِنَةٌ وَلاَنَوْمٌ
    Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi ”(Q.S. Al-Baqarah: 255).
    Dengan menyadari bahwa Allah selalu terjaga dan memperhatikan serta mengurus semua hamba-Nya, maka akan muncul keyakina Allah mendengar doa dan akan mengabulkannya.

    Ketiga, Ungkapan Gusti Allah ora sare juga digunakan untuk membesarkan hati, ketika seseorang difitnah orang melakukan suatu keburukan, yang tidak pernah kita lakukan. Dengan menyadari bahwa segala fitnah itu pada akhirnya akan terhapus dan kebenaran akan muncul, karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dalam surat Al-An’am dicontohkan situasi sebagai berikut:
    قُل لَّوْ أَنَّ عِندِى مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِۦ لَقُضِىَ ٱلْأَمْرُ بَيْنِى وَبَيْنَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِٱلظَّٰلِمِينَ

    Artinya: “Katakanlah: Kalau sekiranya ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan, tentu telah diselesaikan Allah urusan yang ada antara aku dan kamu. Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zalim” (QS. Al-‘An`am: 58)

    Keempat, ungkapan ini digunakan untuk membesarkan hati apabila amal kebaikan seseorang tidak dihargai oleh orang lain. Adalah manusiawi ada kalanya seseorang yang telah bekerja keras, mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk berkarya, namun teman-teman dan orang disekitarnya tidak mengapresiasi pekerjaan dan hasil karyanya. Orang ini kemudian menjadi kecil hati, nglokro, dan cenderung kehilangan keihlasan, seolah ia bekerja untuk mendapat pengakuan dan pujian orang lain. Dengan ungkapan ini, maka ia akan kembali sadar, bahwa bukan pengakuan dan pujian orang lain lah tujuan ia bekerja. Ia bekerja semata-mata untuk mendapatkan ridlo Allah Swt. Oleh karena itu, apabila ia telah bekerja maksimal, dengan niat yang lurus, dan benar-benar menghasilkan manfaat untuk orang lain, maka pengakuan dan pujian orang lain tidak lah penting. Gusti Allah ora sare, Dia selalu membuat catatan dan perhitungan terhadap amal kebajikan kita. Hal ini dijanjikan Allah Swt, dalam surat Al-Baqarah ayat 215, sebagai berikut:
    وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
    Artinya: “Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”.( Al-Baqarah: 215).

    Demikianlah ungkapan atau unen-unen bahasa Jawa Gusti Allah ora sare, ternyata memiliki kandungan yang sangat dalam dan kegunaan yang luas. Dengan ungkapan pendek itu, seseorang bisa memiliki self control, sikap tawakal dan optimis, tidak takut terhadap fitnah dan celaan orang lain, serta memiliki jiwa yang merdeka dan niat yang tulus dalam bekerja, tidak mudah patah semangat. Demikian luas kawasan pengaruh keberagamaan dan kejiwaan yang bisa dijangkau oleh ungkapan singkat Gusti Allah ora sare.

    Wallaahu a’lam

    No Comments
  • Judul tulisan ini mengisyaratkan adanya tiga pertanyaan yang hendak dicoba untuk dijawab. Siapakah Allah SWT itu? Siapakah kita manusia itu? Mengapa Allah SWT perlu memerintahkan manusia untuk berpuasa? Pertanyaan tersebut merupakan hal yang sangat mendasar untuk kita jawab manakala kita menghendaki puasa kita bukan sekedar ritual tahunan, namun benar-benar merupakan bagian dari pelatihan dan penempaan diri secara terus menerus.
    Lebih jauh pemahaman dan kesadaran terhadap ketiga hal di atas, akan berdampak pada keberagamaan dan perilaku kita secara umum. Bagaiamana kita beragama, sebenarnya sangat ditentukan oleh bagaimana kita memahami agama.

    Siapakah Allah itu?
    a. Rabb, Maalik dan Ilaah
    Untuk menjawab pertanyaan ini dalam konteks hubungannya dengan manusia, dapat kita temukan pada surat terakhir dari al-Qur’an, yaitu surat An-Naas.
    قل اعوذ برب الناس مالك الناس اله الناس من شرالوسواس الخناس الذي يوسوس في سدورالناس من الجنة والناس
    Artinya: Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan (Yang Memelihara dan Menguasai) manusia (1) Raja manusia (2) Sembahan manusia (3) dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi (4) yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia (5) dari jin dan manusia.
    Pada ayat pertama sampai ketiga di atas, kita temukan bahwa Allah itu adalah rabb (yang menciptakan, melahirkan ke dunia, memberi rizki, melindungi memelihara, dsb) manusia. Allah juga adalah satu-satunya raja/penguasa manusia. Dia berkuasa penuh atas diri manusia, termasuk menghidupkan dan mematikan kapan saja Dia kehendaki. Karena Allah SWT adalah Rabb dan Maalik, maka sudah sewajarnya kalau dia adalah juga satu-satunya yang harus disembah oleh manusia. Manusia seharusnya hanya bergantung, meminta, serta tunduk kepada-Nya semata, tidak boleh kepada yang lain, yang sama sekali tidak dapat memberikan manfaat atau madlarat kecuali atas perkenan-Nya. Ketiga hal inil hakikatnya merupakan pangkal pokok ajaran Islam, yang disebut dengan Tauhid Rububiyyah, Mulukiyyah dan Uluhiyyah.

    b. Pencipta Yang Maha Sempurna
    Sebagai Rabb al-alamiin, Allah SWT adalah juga sebagai al-Kholiq (Yang Maha Pencipta). Berbeda dengan manusia yang penuh kekurangan dan sering bekerja asal-asalan, dalam menciptakan segala sesuatu Allah SWT selalu bekerja sempurna, tanpa cacat, terukur dan seterusnya. Dalam surat al-A’la, dinyatakan bahwa sebagai Al-Khaliq dalam menciptakan segala sesuatu Allah melakukan empat langkah yaitu (1) menciptakan, (2) menyempurnakan, (3) memberikan ukuran, dan (4) memberi bimbingan. Surat Al-A’la (87) ayat 1-4, berbunyi:

    سبح اسم ربك الاعلى الذى خلق فسوى والذى قدر فهدى

    Artinya: (1) Sucikanlah nama Tuhanmu yang paling Tinggi, (2) yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), (3) yang menentukan kadar (masing-masing) dan (4) memberi petunjuk.
    Berdasarkan pada dua tinjauan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Allah SWT adalah sebagai pencipta segala yang ada, termasuk manusia. Dia-lah yang memelihara semuanya, dengan cara memberikan takaran/ukuran serta bimbingan terhadap semua yang diciptakan-Nya.

    Siapakah Manusia itu?
    a. Sebagai hamba Allah SWT.
    Manusia diciptakan oleh Allah SWT tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghamba (beribadah) kepada-Nya. Dalam surat Adz-Dzariyaat (51) ayat 56-57:

    وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون ما ا ريد منهم من رزق وما
    ا ريد ا ن يطعمون

    Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.

    b. Sebagai Khalifah (wakil) Allah di bumi
    Penciptaan manusia sebagai wakil (khalifah) Allah SWT di muka bumi didahului oleh polemik dengan malaikat yang mempertanyakan kehendak Allah tersebut. Hal ini digambarkan dalam surat al-Baqarah ayat 30
    واذ فال ربك للملئكة انى جاعل فىالارض خلىفة قالوا اتجعل فىها من يفسد فيها ويسفق الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال اني اعلم مالا تعلمون

    Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

    c. Manusia terdiri atas jasad dan Ruh yang ditiupkan Allah
    Manusia terdiri atas: jasad (fisik, panca indera dan anggota badan lainnya), insting, hawa nafsu, akal, dan hati nurani serta ruh. Jasad dijadikan dari unsur-unsur yang terdapat dalam alam (diistilahkan dengan tanah). Sementara ruh adalah pancaran yang ditiupkan oleh Allah SWT. Dalam surat As-Sajdah (32) ayat 9 Allah SWT berfirman:
    ثم سويه ونفخ فيه من روخه وجعل لكم السمع والابصار والافئده قليلا ما تشكرون
    Artinya: Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) sedikit sekali bersyukur.

    d. Manusia adalah mahluk jasmani dan rokhani, punya hati dan perasaan, yang punya kebebasan memilih, dan bisa bertanggung jawab atas perbuatannya.

    Mengapa manusia disuruh puasa?
    Dalam surat al-Baqarah ayat 183, dinyatakan bahwa perintah puasa itu juga diwajibkan bagi umat-umat sebelum nabi Muhammad. Ini berarti puasa itu memang penting untuk manusia, kapan dan di manapun. Apa rahasianya?
    a. Allah yang menciptakan, Allah yang memberi petunjuk/membimbing
    Sekarang ini banyak dijumpai produk barang yang berteknologi tinggi. Hampir semua produk tersebut, pasti dilengkapi dengan buku petunjuk penggunaan. Maksudnya tentu saja agar barang tersebut tidak rusak, berfungsi optimal, serta awet. Manusia diciptakan Allah, tentu dilengkapi petunjuk sebagaimana benda tadi tentu agar berjalan dengan benar, berfungsi optimal dan sehat (awet) jiwa maupun raga. Allah lah yang paling tahu tentang manusia. Semua hukum Allah, pada dasarnya adalah untuk melindungi:
    (a) agama, dengan sasaran hati nurani dan ruhani, (tidak boleh menghamba kepada selain Allah)
    (b) Jiwa, dengan sasaran kelangsungan hidup, (Tidak boleh menghilangkan nyawa orang lain)
    (c) Akal, agar tetap waras, tetap mulia dan bermartabat, tidak jatuh pada kehinaan seperti binatang,
    (d) Keturunan, agar suci, jelas, terhormat tidak seperti binatang. Termasuk dalam hal ini adalah memberikan makanan yang halal, dan pendidikan yang baik.
    (e) Harta, agar terjaga, tidak saling merugikan. Sebuah hadits, menyatakan bahwa diantara sesama manusia (apa pun agamanya) diharamkan tiga hal: darahnya, hartanya dan kehormatannya.

    b. Puasa untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta
    Ruh manusia adalah berasal dari Allah. Manusia adalah hamba dan wakil Allah. Berpuasa, adalah mencoba melakukan sebagian sifat-sifat Allah dalam kehidupan manusia. Allah tidak butuh makan dan minum, malah Allah memberi rezki (makan dan minum) kepada semua mahluk. Berpuasa mencegah makan dan minum, serta dianjurkan banyak memberi makan kepada yang memerlukan. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, manusia disuruh menahan nafsu seksual. Dua hal inilah yang merupakan dorongan (kebutuhan) mendasar dalam hidup manusia. Oleh karena itu dua hal ini yang ditekankan, baru kemudian belajar sabar, mengurangi tidur, bekerja yang terbaik, tidak berbuat jelek kepada siapa pun dan seterusnya.
    Dengan mengendalikan hawa nafsu, manusia menjadi dekat dengan Allah, sebaliknya bila menurutkan hawa nafsu manusia jadi jauh dari Allah. Inilah salah satu rahasia puasa yang tersirat dalam surat Al-Baqarah Ayat 186.

    c. Puasa sebagai bentuk pelatihan Manajemen Diri
    Karena Allah adalah Rabb manusia, maka Dia memberikan panduan pendidikan/ latihan agar manusia dapat menjalani hidup dengan baik dan berhasil. Pelatihan ini dilakukan selama satu bulan, untuk menghadapi tantangan selama 11 bulan setiap tahunnya.
    Dasar pelatihannya adalah iman, kalau tidak beriman tidak (mungkin) akan berpuasa.
    Tujuannya, adalah taqwa (kemampuan mengendalikan diri, melakukan segala perintah dan meninggalkan larangan-Nya.
    Metodenya adalah: berpuasa dan materinya adalah latihan menahan diri.
    Reward yang dijanjikan adalah Lailatul Qoddar.
    Nilai-nilai yang terkandung dalam puasa sebagai pelatihan manajemen diri antara lain:
    Puasa sebagai bentuk pelatihan manajemen diri, meliputi:
    1. Pengendalian diri dari dorongan nafsu/syahwat, terutama makan, minum dan hubungan seksual, karena kalau dituruti berlebihan, efeknya negatif.
    2. Pengendalian emosi atau nafsu amarah, karena kalau tidak dimanaj akan kontra produktif.
    3. Kemampuan manajemen waktu dan disiplin, disimbulkan dengan ketepatan waktu sahur dan berbuka. Makan sahur sebenarnya hukumnya sunnah, yang terpenting bukan makannya, namun bangun malamnya, agar dapat bertahajjud dan membuat perencanaan hidup.
    4. Melatih kejujuran dan kesabaran dan tanggung jawab. Walaupun tidak ada yang tahu, kita tetap tidak berani makan kalau belum saatnya.
    5. Mengkondisikan waktu untuk belajar agama.

    Dimensi pelatihan sosial puasa terletak pada:
    1. Semangat kebersamaan dalam keluarga dan komunitas (waktu makan sahur, buka puasa, jamaah tarawih, tadarrus dsb.).
    2. Solidaritas dan peduli kepada fakir/miskin. Turut merasakan penderitaan, serta anjuran untuk memperbanyak sedekah.
    3. Ahlak yang baik, selama puasa dilarang bertengkar, menggunjing, mengucapkan kata-kata kotor dsb.
    4. Memaafkan, pada akhir romadlon kita melaksanakan halal bihalal.

    Demikianlah uraian singkat mengenai Allah, manusia dan puasa. Dengan keyakinan bahwa Allah adalah Rabb manusia, maka kita yakin segala petunjuk-Nya (bukan sekedar perintah) adalah untuk kebaikan dan keberhasilan hidup manusia. Puasa merupakan salah satu petunjuk atau metode pelatihan bagi manusia, agar ia tetap dalam keadaan baik fisik/kesehatannya, mental/jiwanya, hubungan sosialnya, serta tetu saja kedekatan hubungan dengan Sang Khaliq-Nya.

    Subhanallah, Rabb yang maha memelihara dan mendidik hamba-Nya.

     

    No Comments
  • Ramadhan bisa diibaratkan tamu, yang secara periodik mengunjungi setiap orang yang beriman. Ia datang berselang sebelas bulan, dan bertamu selama satu bulan. Makna kehadirannya, akan dirasakan berbeda-beda oleh masing-masing tuan rumah yang didatangi. Hal ini tergantung pada pada ketulusan dan kesungguhan dalam menyambut dan menerima kehadirannya. Bahkan, rasa kehangatan dalam kunjungan tamu tersebut, bisa dirasakan berbeda oleh seseorang antara tahun kemarin, tahun sekarang dan mungkin tahun yang akan datang bila masih punya kesempatan.

    Tidak seperti tamu pada umumnya, tamu ramadhan tidak mengharapkan tetapi justeru membawa dan menawarkan suguhan kepada yang dikunjungi. Diantara jamuan yang ditawarkan oleh ramadhan adalah berupa keberkahan, kebaikan, insentif/pahala, dan inspirasi. Dari berbagai tinjauan, ramadhan menawarkan kebaikan dan keberkahan. Dari dimensi fisik dan kesehatan, manfaat dan kebaikan ramadhan dapat dibuktikan secara ilmiah tanpa diragukan. Dalam dimensi mental kepribadian, ramadhan menawarkan pendidikan dan pembiasaan yang membentuk manusia yang disiplin dan berkarakter. Ramadhan menawarkan hidangan istimewa dan ajaib, yaitu orang yang memakan dan menikmati kelezatannya, niscaya akan menjadi orang yang baik. Para penikmat perjamuan ramadhan akan berubah menjadi selalu berpikir yang baik-baik, berkata yang baik-baik, dan berbuat hanya yang baik. Dari dimensi sosial, jamuan ramadhan menjadikan penikmatnya akan selalu berprasangka baik kepada orang lain, bersikap baik, banyak memaafkan, dan ringan tangan untuk menolong dan memberi.

    Kunjungan ramadhan juga menawarkan insentif atau pahala. Mereka yang menikmati suguhan ramadhan, akan dapat meraup insentif yang berlipat dari biasanya. Di ditawarkannya di meja perjamuan, suatu malam yang nilai kebaikannya melebihi seribu bulan. Selain itu, ramadhan juga menghidangkan inspirasi yang tersaji di malam dan siang hari ketika setiap pribadi melakukan muhasabah dalam i’tikaf. Mereka yang bisa mencecap kelezatannya, niscaya akan laksana terlahir kembali, menjadi pribadi baru yang bersih, semakin rendah hati, murah hati, dan baik hati.

    Itulah berbagai suguhan yang dibawa oleh tamu tahunan orang beriman. Tahun ini kembali tamu itu datang berkunjung. Seperti tahun-tahun sebelumnya banyak yang pada awalnya begitu bersemangat menyambutnya, namun di hari-hari berikutnya hidangan lezat yang dibawa sang tamu itu dibiarkan basi begitu saja. Sampailah di hari-hari akhir, biasanya timbul penyesalan betapa kita terlalu sedikit mencicipi lezatnya hidangan ramadhan tahun ini. Dan setiap orang tidak ada yang bisa menjamin bahwa ramadhan akan kembali mengunjunginya tahun depan.

    Ada satu cara menyambut kedatangan ramadhan, sebagaimana yang diajarkan oleh Kangjeng Rasul Muhammad Saw. ketika seseorang melaksanakan shalat, ia harus beranggapan bahwa shalatnya itu merupakan shalat yang terakhir, shalat perpisahan dalam hidupnya. Bila kehadiran ramadhan tahun ini, dianggap sebagai ramadhan terakhir dalam hidup seseorang, dan tahun depan dia sudah tidak akan lagi berjumpa dengan ramadhan, maka betapa sempurnanya ia melaksanakan, betapa khusyu’nya, betapa ikhlashnya, dan betapa sungguh-sungguhnya ia melahap semua hidangan yang disajikan oleh ramadhan. Seakan tidak ada secuilpun yang mau ia sisakan, seakan tidak ada waktu sedetikpun yang mau ia lewatkan.

    اللهم بارك لنا في رمضان وتقبل حسن استقبالنا له
    واعنا على صيامه و قيامه امين
    Sumber bacaan: Abdul Aziz bin Mustofa Kamal. 2004. Ruuhus Shiyaam wa Ma’aanihi. https://islamhouse.com/ar/books/205812/

    No Comments
  • RENCANA PERKULIAHAN

    IDENTITAS MATAKULIAH
    Matakuliah/ sks : Supervisi Pembelajaran /3 sks
    Kelas/Smt/Kelompok : Supervisi/I/A dan B
    Hari/jam kuliah : Senin/
    Dosen : Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd

    DESKRIPSI MATAKULIAH
    Dalam perkuliahan ini dibahas tentang: Latar belakang supervisi, konsep dasar, teori-teori yang menjadi landasan supervisi, model, pendekatan dan teknik-teknik supervisi, ruang lingkup supervisi, bahan dan alat pembinaan untuk supervisi, pelaku-pelaku dan proses supervisi, supervisi pendidikan (pembelajaran) Pendidikan Agama Islam, dan supervisi bagi pengembangan mutu sekolah/madrasah.

    TUJUAN MATAKULIAH
    Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu memiliki pemahaman dan wawasan tentang latar belakang supervisi, konsep dasar, teori-teori yang menjadi landasan supervisi, model, pendekatan dan teknik-teknik supervisi, ruang lingkup supervisi, bahan dan alat pembinaan untuk supervisi,pelaku-pelaku dan proses supervisi, supervisi pendidikan (pembelajaran) PAI, serta supervisi bagi pengembangan mutu sekolah/madrasah.

    MATERI PERKULIAHAN (PERTEMUAN & MATERI POKOK)
    1 Pengantar dan Pembagian Tugas
    2 Latar Belakang Supervisi: (a) Kondisi Pendidikan dan Pembelajaran di Indonesia, (b). Guru sebagai Kunci Peningkatan Mutu Pendidikan, (c) Realitas Motivasi, Komitmen dan Kreativitas Guru dewasa ini, (d) Perlunya perubahan paradigma (mindset), serta peningkatan motivasi dan keterampilan guru, (e). Peranan pengawas (supervisor) dalam peningkatan mutu guru dan pendidikan di Indonesia, dan (f) f. Peraturan hukum terkait dengan kepengawasan/supervisi dan peningkatan mutu pendidik dan pendidikan di Indonesia
    3 Konsep Dasar Supervisi: (a). Pengertian dan hakikat supervisi pembelajaran’ (b). Perbedaan supervisi dengan penilaian dan evaluasi, (c). Hubungan antara supervisi dengan pengembangan SDM, (d). Prinsip-prinsip, tujuan, dan fungsi supervisi
    4 Teori-teori yang menjadi landasan supervisi pembelajaran: (a). Teori organisasi (sekolah) dan supervisi, (b) b. Teori motivasi (guru) dan supervisi
    5 Teori-teori yang menjadi landasan supervisi pembelajaran, (a). Teori pembelajaran orang dewasa (guru) dan supervisi, dan (b). Teori manajemen perubahan (sekolah) dan supervisi peningkatan mutu sekolah/madrasah
    6 Pendekatan dan Model Supervisi: (a). Latar belakang pemilihan pendekatan supervisi; (b) Supervisi pembelajaran informal dan formal; (c) Pendekatan Direktif, Kolaboratif dan Nondirektif, dan (d)  Model Supervisi: scientific, artistic & clinic: latar belakang kemunculan dan implementasinya
    7 Metode dan Teknik Supervisi Individual: Macam-macam metode dan teknik supervisi individual, serta langkah pelaksanaannya
    UJIAN TENGAH SEMESTER
    8 Metode dan Teknik Supervisi Kelompok: Macam-macam metode dan teknik supervisi kelompok, serta langkah-langkah pelaksanaannya
    9 Metode dan Teknik Supervisi Pembelajaran berbasis ICT: (a). Penggunaan ICT dalam Pembelajaran, (b) Pemanfaatan ICT oleh Kepala Sekolah dan Pengawas (Supervisor) bagi Peningkatan Motivasi dan Keterampilan Guru dalam Pembelajaran; (c). Penggunaan ICT bagi pengembangan keprofesionalan guru secara mandiri; dan (d). Contoh metode dan teknik supervisi (oleh pengawas/supervisor) berbasis ICT
    10 Supervisi Klinis: (a). Pengertian dan Latar belakangnya; (b). Pola hubungan yang harus dibangun antara guru dengan supervisor; dan (c). Siklus supervisi klinis
    11 Telaah  Simulasi/Video Pelaksanaan Supervisi Klinis: (a). Tayangan video supervisi klinis, atau simulasi pelaksanaan supervisi klinis, dan (b) Refleksi bersama thd video/simulasi

    12. Metode-Metode baru dalam Supervisi: Action Research, Lesson Study dan Portofolio: (a). Membimbing guru untuk melaksanakan Penelitian Tindakan kelas (Action Rsearch) sebagai bentuk supervisi pembelajaran; (b). Lesson Study, sebagai upaya peningkatan efektivitas pembelajaran guru, dan (c). Pelaksanaan supervisi melalui portofolio
    13 Supervisi bagi Pembelajaran PAI dan Sekolah/Madrasah: (a). Proble-matika guru (secara umum) dalam pembelajaran PAI di sekolah/madrasah; (b). Problematika guru dalam pembelajaran PAI berdasarkan Kurikulum 2013, dan (c). Langkah-langkah supervisi bagi peningkatan pembelajaran PAI di sekolah/Madrasah
    14 Supervisi bagi peningkatan mutu sekolah/madrasah: (a). Konsep mutu sekolah/madrasah; (b). Manajemen peningkatan mutu sekolah/madrasah, dan (c). Peran dan fungsi pengawas/supervisor dalam peningkatan mutu sekolah/madrasah

    UJIAN AKHIR SEMESTER

    METODE PERKULIAHAN
    1. Pengantar, penjelasan ruang lingkup materi dan strategi perkuliahan, serta sumber-sumber belajar oleh dosen, dilanjutkan dengan kontrak belajar/pembagian tugas.
    2. Penyiapan materi kuliah (makalah) oleh mahasiswa sesuai dengan tugas masing-masing, baik melalui kajian teoretik maupun studi lapangan.
    3. Presentasi makalah oleh mahasiswa
    4. Diskusi kelas
    5. Konfirmasi dan pengembangan materi oleh dosen
    6. Refleksi

    SUMBER, ALAT DAN MEDIA
    Buku Berbahasa Inggris, al:
    Allan. A. Glatthorn. 1990. Supervisory Leadership. USA: Harper Collins Publishers Carl D.
    Waite, Duncan. 1995. Rethinking Instructional Supervision: Notes on its Language and Culture. London: The Falmer Press.
    Glickman, Carl. D. Developmental Supervision. Alexandria: ASCD
    Glickman, Carl. D. Leadership For Learning: How To Help Teacher Succeed. Alexandria: ASCD
    Hoy, Wayne K. & Forsyth, P.B. Effectife Supervision: Theory into Practice.
    Norman D. Powell. 2004. Supervision and Evaluation of Instructional Personnel. Riverside, California: La Sierra University
    Peter F. Oliva. 1984. Supervision for Today Schools. New York: Longman
    Sally J. Zepeda. 2007. Instructional supervision: applying tools and concepts. New York: Eye on Education
    Thomas J. Sergiovanni & Robert J. Starratt. 1993. Supervision: A Redifinition. New York: McGraw-Hill.

    Buku Berbahasa Indonesia, al:
    Binti Maunah. 2009. Supervisi Pendidikan Islam: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Teras
    Dadang Suhardan. 2010. Supervisi Profesional: Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta.
    Direktorat Tenaga Kependidikan. 2010. Supervisi Akademik: Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.
    Made Pidarta. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
    Pupuh F & AA. Suryana. 2011. Supervisi Pendidikan dalam Pengembangan Proses Pengajaran. Bandung: Aditama.

    Sumber Belajar Lainnya, al.:
    1. www.ascd.org/
    2. http://ema.sagepub.com
    3. http://openjournals.library.usyd.edu.au/index.php/IEJ/article/view/6888/7969
    4. http://blog.k-12leadership.org/instructional-leadership-in-action
    5. http://blog.teachboost.com
    6. https://akhmadsudrajat.wordpress.com/
    7. Clinical Supervision — for teachers: http://www.youtube.com/watch? v=6GRv9aDR1e8
    8. Supervisi Kelas oleh Pengawas Sekolah: Pendampingan Saat Proses Pembelajaran: http://www.youtube.com/watch?v=9EgsI-BYaPk

    Alat dan Media
    1. Laptop
    2. Jaringan internet
    3. LCD
    4. Whiteboard and Boardmarker
    5. dll.

    PENILAIAN
    1. Penilaian proses : (60 %)
    a. Keaktifan (kehadiran dan partisipasi) : 15 % (sangat menentukan)
    b. Kesungguhan dalam penyelesaian tugas : 15 %
    c. Bobot/kualitas tugas : 15 %
    d. Presentasi : 15 %
    2. Penilaian Hasil Ujian : (40 %)

    No Comments
  • Hari raya Idul Fitri merupakan salah satu hari raya umat Islam yang diperingati secara luas di berbagai negara, khususnya yang berpenduduk mayoritas muslim. Di Indonesia, perayaan hari raya ini sangatlah semarak. Paling tidak terdapat tiga tradisi yang membuat perayaan Idul Fitri di negeri ini menjadi begitu masif, yaitu tradisi sungkeman, halal-bihalal, dan mudik.

    HAKIKAT IDUL FITRI
    Terdapat dua pendapat yang berbeda mengenai maka idul fitri. Pendapat pertama, memaknainya sebagai “kembali pada fitrah/kesucian. Sedangkan pendapat kedua mengartikan idul fitri sebagai “hari raya untuk kembali makan/berbuka”. Pendapat pertama mendasarkan pada kata “ied” yang berarti kembali, dan fitri berarti kesucian. Selain itu, pendapat ini juga didukung oleh pemahaman bahwa orang yang selesai melaksanakan ibadah puasa dengan sempurna, dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah SWT, sehingga ia laksana terlahir kembali bersih dari noda dan dosa. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang artinya “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (Muttafaq ‘alayh)”. Selain itu juga: “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu(Muttafaq ‘alayh)” . Manakala seseorang telah diampuni semua dosa-dosanya, maka ia dapat dikatakan kembali kepada kesucian sebagaimana saat dilahirkan.
    Adapun pendapat kedua didasarkan pada kata Ied dalam hari raya, dan bentuk jamaknya adalah a’yad. Adapun kata fithr (فطر) yang berarti makan/berbuka (ifthar (إفطار), tidaklah sama dengan kata fithrah yang berarti kesucian. Selain itu, pendapat ini juga mengaitkan dengan hari raya Idul Adha, yang berarti “hari raya penyembelihan hewan qurban”, bukan “kembali kepada adha”. Oleh karena itu, maka pendapat kedua mengartikan idul fitri sebagai hari raya untuk kembali berbuka/makan.
    Dari dua pemaknaan di atas, nampaknya selama ini kebanyakan masyarakat Indonesia cenderung pada pemaknaan yang pertama. Selain itu, terlepas dari perbedaan pemaknaan di atas, realitasnya Idul Fitri telah menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang khas, yang tidak ditemukan di negara-negara muslim lainnya.
    Dalam melihat setiap tradisi, tentu yang paling penting untuk dilihat adalah dari segi kebaikan dan manfaatnya, selain tidak bertentangan dengan pokok-pokok aqidah. Berikut akan kita kupas tradisi yang menyerati perayaan Idul Fitri di Indonesia, yaitu sungkeman, halal bi halal, dan mudik.

    TRADISI SUNGKEMAN
    Tradisi sungkeman pada awalnya berasal dari tradisi pisowanan di lingkungan kerajaan, khususnya di Jawa. Pada kesempatan ini, para pembantu raja menghadap (sowan- Bahasa Jawa), pada acara-acara resmi yang diselenggarakan oleh raja. Kata “sungkem” sendiri bermakna “menjabat tangan sambil menciumnya” (raja/orang tua/atau orang yang sangat dihormati). Biasanya orang yang dihormati tersebut dalam posisi duduk di kursi, sementara orang yang menjabat tangannya dalam posisi berjongkok, sambil memegang dan mencium tangan di atas lutut orang yang dihormati. Tradisi ini sampai saat ini masih dilakukan oleh pengantin dalam upacara pernikahan adat Jawa.
    Sungkeman mengandung makna bahwa orang yang mencium tangan itu (anak/yang lebih muda/bawahan): menyatakan pengakuan atas kemuliaan orang tersebut, mengungkapkan terima kasih yang dalam, mengakui kerendahan diri dan memohon maaf, serta mengharap do’a dan restu dari orang tersebut. Sementara itu, orang yang lebih tua/terhormat biasanya akan memandang dengan penuh rasa kasih sayang, memberikan doa restu, serta semakin memiliki rasa tanggung jawab untuk berbuat/berdoa bagi kebaikan kehidupan orang tersebut.
    Dalam konteks Idul Fitri dewasa ini, tradisi sungkeman biasanya lebih banyak ditemukan pada keluarga, yaitu antara anak dengan ayah ibu, cucu dengan kakek, keponakan dengan paman atau bibinya, dan seterusnya. Tradisi sungkeman sejalan dengan pola relasi sosial dalam masyarakat di mana setiap orang itu harus andhap ashor dan mengerti unggah-ungguh. Maksudnya, setiap orang hendaknya selalu bersikap rendah hati, dan bisa menempatkan/menghormati orang lain sesuai dengan kedudukan atau statusnya. Konsep ini adalah salah satu manifestasi konsep rukun (harmoni) dalam relasi sosial pada masyarakat Jawa. Apabila setiap orang bersikap andhap ashor dan menerapkan unggah-ungguh, maka hubungan kekerabatan/sosial akan berjalan harmonis, terhindar dari segala konflik.
    Pada masyarakat modern dewasa ini, di mana kebanyakan keluarga besar hidup terpencar di berbagai daerah sesuai dengan pekerjaannya, maka acara sungkeman itu kemudian biasanya dikemas dalam pertemuan keluarga besar yang biasa juga disebut dengan halal bi halal. Untuk dapat hadir dan berjumpa keluarga besar tersebut, maka mereka yang bekerja di daerah-daerah lain pulang ke kampung halaman, yang dikenal dengan mudik (menuju ke Udik-tempat asal di pedalaman).
    Sementara itu, dewasa ini di kalangan pejabat tinggi tradisi sungkeman ini dinamakan open house, di mana pejabat menerima staf dan karyawan serta masyarakat umum untuk berkunjung dan mengucapkan selamat hari raya idul fitri. Tentu saja yang dilakukan tidak lagi berjongkok sambil sungkem, namun cukup berjabat tangan.

    TRADISI HALAL BIHALAL
    Dalam perspektif ajaran Islam, setiap manusia selalu terlibat dalam dua hubungan, yaitu hubungan dengan Tuhan (habl min-Allah), dan hubungan dengan sesama manusia (habl min an-naas). Dalam kedua hubungan tersebut, maka setiap individu hampir dipastikan memiliki kesalahan, baik kepada Allah maupun terhadap sesama.
    Selama ramadhan, ada satu doa yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk dibaca, yaitu:
    اللهم إنك عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
    “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pema’af, Engkau suka memaafkan (hamba-Mu), maka maafkanlah aku”.
    Dengan menghayati doa ini, serta dengan memahami hadits di atas, maka dapat diasumsikan bahwa seusai ramadhan, dosa seorang muslim yang sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah puasa, telah diampuni olah Allah SWT. Selanjutnya untuk menyempurnakan hal ini, maka perlu menghapus dosa terhadap sesama, baik itu keluarga, tetangga, rekan-rekan kerja, maupun orang lain yang memiliki relasi selama ini. Untuk itu maka masyarakat Indonesia memanfaatkan momentum idul fitri untuk saling meminta dan memberi memaafkan.
    Memang, menurut al-Qur’an Surat Ali Imran, ayat 134 yang diperintahkan adalah memberi ma’af kepada orang lain. Namun sesuai dengan nilai budaya lembah manah dan andhap ashor, maka kita harus menyatakannya untuk orang lain adalah meminta maaf, dengan terkandung maksud dalam hati bahwa kita pun siap memaafkan kesalahan orang tersebut kedapa diri kita. Sebaliknya, orang yang dimintai maaf, akan menyatakan hal yang sama. Inilah suatu bentuk kehalusan tata krama dalam tradisi Indonesia, khususnya di Jawa.
    Terhadap keluarga inti dan tetangga sekitar, biasanya prosesi saling memaafkan tersebut dapat dilakukan secara langsung, individu per individu. Namun ketika relasi itu telah melebar pada suatu lingkungan tempat tinggal yang lebih luas, rekan kerja dalam satu kantor, atau relasi lainnya, kegiatan saling memaafkan ini tidak dapat dilakukan per individu. Dari sinilah kemudian, muncul upacara halal bi halal, yang tujuan utamanya sebenarnya adalah untuk kepraktisan.

    Adapun istilah halal bihalal sendiri, dalam satu versi dinyatakan muncul pada era Presiden Sukarno, yang meminta gagasan dari KH. Abdul Wahab Chasbullah, untuk menggagas acara silaturrahim guna mempertemukan berbagai tokoh pada masa itu. Kegiatan ini kemudian menjadi tradisi di lingkungan tempat tinggal, kantor-kantor, instansi pemerintah, organisasi dan sebagainya. Dalam halal bi halal ini bahkan biasa diikuti oleh pemeluk agama selain Islam yang menjadi bagian dari komunitas tersebut.
    Dalam bingkai budaya yang demikian, kiranya tradisi halal bi halal memiliki nilai positif dan tidak melanggar pokok-pokok aqidah maupun syariat agama Islam.

    TRADISI MUDIK
    Tradisi mudik di hari raya Idul Fitri, mulai marak tentunya sejalan dengan era urbanisasi. Dengan pertumbuhan pembangunan yang pesat di perkotaan, maka banyak tenaga kerja dari berbagai pelosok daerah datang ke kota untuk bekerja pada berbagai profesi maupun strata. Mereka ini meninggalkan kampung halaman dan sanak saudaranya. Bagi mereka ini, ikatan dengan keluarga dan tanah tumpah darah masih sangat kuat. Oleh karena itu, maka momentum yang paling tepat untuk bertemu dengan keluarga, sanak kerabat, serta teman-teman di masa kecil adalah pada saat perayaan Idul Fitri. Dari sinilah maka peristiwa kepulangan para perantau ke kampung halaman untuk bersama-sama merayakan Idul Fitri ini dari waktu ke waktu semakin meluas, seiring dengan pertumbuhan kota-kota besar di Indonesia.
    Peristiwa mudik, dapat dianggap menjadi pengganti jargon “mangan ora mangan anggere kumpul”. Jargon ini tentu sudah tidak bisa dilakukan, karena lapangan kerja yang tersedia memaksa orang harus meinggalkan kampung halaman. Namun demikian, semangat “kumpul” itu tidak bisa dihilangkan sama sekali. Oleh karena itu, masyarakat masih bisa memenuhinya dengan melakukan mudik pada waktu yang sama, yaitu pada hari raya Idul Fitri.
    Peristiwa mudik, kemudian memiliki dimensi yang sangat luas, dan memaksa pemerintah untuk melayani para pemudik ini. Peristiwa mudik dalam rangka Idul Fitri yang melibatkan jutaan manusia di Indonesia, memiliki dimensi sosial, budaya, ekonomi, politik, keamanan dan sebagainya. Secara sosial, mudik melibatkan pergerakan manusia yang luar biasa, dan menjadi wahana interaksi sosial, pencerminan strata sosial dan sebagainya. Secara budaya, mudik menjadi tradisi khas Indonesia. Secara ekonomi, mudik melibatkan perputaran uang yang sangat besar dengan multiplyer effect yang luar biasa bagi penyebaran ekonomi. Secara politik, mudik juga dapat dimanfaatkan para politisi maupun kandidat kepala daerah untuk kepentingan sosialisasi. Dari sisi keamanan, tentunya diperlukan kerja ekstra dari aparat keamanan untuk menjaga stabilitas baik di kota-kota yang ditinggalkan, di perjalanan, maupun di daerah tujuan para pemudik.
    Dalam kaitannya dengan pelaksanaan ibadah puasa, tradisi mudik ini sering dipandang sebagai pemicu hilangnya kekhusyukan di akhir ramadhan, justeru saat-saat di mana umat muslim disuruh bersungguh-sungguh meningkatkan intensitas ibadahnya. Dalam konteks ini, menurut hemat kami adalah terpulang kepada masing-masing individu, bukan pada tradisi mudik itu sendiri. Selama tradisi mudik itu diniatkan sebagai upaya menyambung silaturrahim, birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) serta keinginan untuk berbagi dengan sanak keluarga dan tatangga, maka mudik sungguh merupakan suatu tradisi yang bernilai positif.

    PENUTUP
    Berdasarkan uraian di atas, maka perayaan Idul Fitri dalam tradisi Islam Indonesia, memang tidak bisa dilepaskan dari budaya. Idul Fitri bukan hanya “peristiwa agama”, namun telah menjadi “aktivitas budaya”. Tradisi sungkeman, halal bi halal, dan mudik, secara kasat mata lebih merupakan “wadah budaya” dengan isi dari agama. Isi inilah yang harus dipertahankan dan diteguhkan, bukan dengan menghilangkan wadah. Inilah salah satu wajah Islam Indonesia.
    Akhirnya kami ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Mohon maaf lahir dan batin.

     

    No Comments
  • IDENTITAS MATAKULIAH
    Matakuliah/ sks : Supervisi Pendidikan/3 sks
    Kelas/Smt/Kelompok : Supervisi/II/A dan B
    Hari/jam kuliah : Selasa
    Dosen : Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd

    DESKRIPSI MATAKULIAH
    Dalam perkuliahan ini dibahas tentang: Latar belakang supervisi, konsep dasar, teori-teori yang menjadi landasan supervisi, model, pendekatan dan teknik-teknik supervisi, ruang lingkup supervisi, bahan dan alat pembinaan untuk supervisi, pelaku-pelaku dan proses supervisi, supervisi pendidikan (pembelajaran) Pendidikan Agama Islam, dan supervisi bagi pengembangan mutu sekolah/madrasah.

    TUJUAN MATAKULIAH
    Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu memiliki pemahaman dan wawasan tentang latar belakang supervisi, konsep dasar, teori-teori yang menjadi landasan supervisi, model, pendekatan dan teknik-teknik supervisi, ruang lingkup supervisi, bahan dan alat pembinaan untuk supervisi,pelaku-pelaku dan proses supervisi, supervisi pendidikan (pembelajaran) PAI, serta supervisi bagi pengembangan mutu sekolah/madrasah.

    MATERI PERKULIAHAN
    1. Pengantar dan Pembagian Tugas
    2 Latar Belakang Supervisi:
    a. Kondisi Pendidikan dan Pembelajaran di Indonesia
    b. Guru sebagai Kunci Peningkatan Mutu Pendidikan
    c. Realitas Motivasi, Komitmen dan Kreativitas Guru dewasa ini
    d. Perlunya perubahan paradigma (mindset), serta peningkatan motivasi dan keterampilan guru
    e. Peranan pengawas (supervisor) dalam peningkatan mutu guru dan pendidikan di Indonesia.
    f. Peraturan hukum terkait dengan kepengawasan/supervisi dan peningkatan mutu pendidik dan pendidikan di Indonesia
    3 Konsep Dasar Supervisi:
    a. Pengertian dan hakikat supervisi pembelajaran
    b. Perbedaan supervisi dengan penilaian dan evaluasi
    c. Hubungan antara supervisi dengan pengembangan SDM
    d. Prinsip-prinsip, tujuan, dan fungsi supervisi
    4 Teori-teori yang menjadi landasan supervisi pembelajaran
    a. Teori organisasi (sekolah) dan supervisi
    b. Teori motivasi (guru) dan supervisi
    5 Teori-teori yang menjadi landasan supervisi pembelajaran
    a. Teori pembelajaran orang dewasa (guru) dan supervisi
    b. Teori manajemen perubahan (sekolah) dan supervisi peningkatan mutu sekolah/madrasah
    6 Pendekatan dan Model Supervisi:
    a. Latar belakang pemilihan pendekatan supervisi
    b. Supervisi pembelajaran informal dan formal
    c. Pendekatan Direktif, Kolaboratif dan Nondirektif
    d. Model Supervisi: scientific, artistic & clinic: latar belakang kemunculan dan implementasinya
    7 Metode dan Teknik Supervisi Individual: Macam-macam metode dan teknik supervisi individual, serta langkah pelaksanaannya
    UJIAN TENGAH SEMESTER
    8 Metode dan Teknik Supervisi Kelompok: Macam-macam metode dan teknik supervisi kelompok, serta langkah-langkah pelaksanaannya
    9 Metode dan Teknik Supervisi Pembelajaran berbasis ICT:
    a. Penggunaan ICT dalam Pembelajaran
    b. Pemanfaatan ICT oleh Kepala Sekolah dan Pengawas (Supervisor) bagi Peningkatan Motivasi dan Keterampilan Guru dalam Pembelajaran
    c. Penggunaan ICT bagi pengembangan keprofesionalan guru secara mandiri.
    d. Contoh metode dan teknik supervisi (oleh pengawas/supervisor) berbasis ICT
    10 Supervisi Klinis
    a. Pengertian dan Latar belakangnya
    b. Pola hubungan yang harus dibangun antara guru dengan supervisor
    c. Siklus supervisi klinis
    11 Kajian Simulasi/Video Pelaksanaan Supervisi Klinis
    a. Tayangan video supervisi klinis, atau simulasi pelaksanaan supervisi klinis
    b. Refleksi bersama thd video/simulasi
    12 Supervisi bagi Pembelajaran PAI di Sekolah/Madrasah
    a. Problematika guru (secara umum) dalam pembelajaran PAI di sekolah/madrasah
    b. Problematika guru dalam pembelajaran PAI berdasarkan Kurikulum 2013
    c. Langkah-langkah supervisi bagi peningkatan pembelajaran PAI di sekolah/Madrasah
    13 Supervisi bagi peningkatan mutu sekolah/madrasah
    a. Konsep mutu sekolah/mdrasah
    b. Manajemen peningkatan mutu sekolah/madrasah
    c. Peran dan fungsi pengawas/supervisor dalam peningkatan mutu sekolah/madrasah
    UJIAN AKHIR SEMESTER

    METODE PERKULIAHAN
    1. Pengantar, penjelasan ruang lingkup materi dan strategi perkuliahan, serta sumber-sumber belajar oleh dosen, dilanjutkan dengan kontrak belajar/pembagian tugas.
    2. Penyiapan materi kuliah (makalah) oleh mahasiswa sesuai dengan tugas masing-masing, baik melalui kajian teoretik maupun studi lapangan.
    3. Presentasi makalah oleh mahasiswa
    4. Diskusi kelas
    5. Konfirmasi dan pengembangan materi oleh dosen
    6. Refleksi

    SUMBER, ALAT DAN MEDIA

    Buku Berbahasa Inggris, al:
    Allan. A. Glatthorn. 1990. Supervisory Leadership. USA: Harper Collins Publishers Carl D.
    Glickman. Developmental Supervision. Alexandria: ASCD
    Norman D. Powell. 2004. Supervision and Evaluation of Instructional Personnel. Riverside, California: La Sierra University
    Peter F. Oliva. 1984. Supervision for Today Schools. New York: Longman
    Sally J. Zepeda. 2007. Instructional supervision: applying tools and concepts. New York: Eye on Education
    Thomas J. Sergiovanni & Robert J. Starratt. 1993. Supervision: A Redifinition. New York: McGraw-Hill.

    Buku Berbahasa Indonesia, al:
    Binti Maunah. 2009. Supervisi Pendidikan Islam: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Teras
    Dadang Suhardan. 2010. Supervisi Profesional: Layanan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta.
    Direktorat Tenaga Kependidikan. 2010. Supervisi Akademik: Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.
    Made Pidarta. 2009. Supervisi Pendidikan Kontekstual. Jakarta: Rineka Cipta.
    Pupuh F & AA. Suryana. 2011. Supervisi Pendidikan dalam Pengembangan Proses Pengajaran. Bandung: Aditama.

    Sumber Belajar Lainnya:
    Youtube: Video Pelaksanaan Supervisi Pembelajaran, al:
    1. Clinical Supervision — for teachers: http://www.youtube.com/watch? v=6GRv9aDR1e8
    2. Supervisi Kelas oleh Pengawas Sekolah: Pendampingan Saat Proses Pembelajaran: http://www.youtube.com/watch?v=9EgsI-BYaPk

    Alat dan Media
    1. Laptop
    2. Jaringan internet
    3. LCD
    4. Whiteboard and Boardmarker
    5. dll.

    PENILAIAN
    1. Penilaian proses : (60 %)
    a. Keaktifan (kehadiran dan partisipasi) : 15 % (sangat menentukan)
    b. Kesungguhan dalam penyelesaian tugas : 15 %
    c. Bobot/kualitas tugas : 15 %
    d. Presentasi : 15 %

    2. Penilaian Hasil Ujian : (40 %)

    No Comments